Tradisi Dalam Sosiologi



Secara  khusus  tradisi  oleh  C.A. van Peursen diterjemahkan sebagai proses pewarisan atau penerusan  norma-norma,  adat  istiadat,  kaidah-kaidah,  harta-harta.  Tradisi dapat dirubah diangkat, ditolak dan dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia.[1]
            Lebih  khusus  tradisi  yang  dapat  melahirkan  kebudayaan  masyarakat dapat diketahui dari wujud tradisi itu sendiri. Menurut Koentjaraningrat,  kebudayaan  itu  mempunyai  paling  sedikit  tiga wujud, yaitu:
a)      Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasangagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
b)      Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola  dari manusia dalam masyarakat.
c)       Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Masyarakat  merupakan  sekelompok  orang  yang  memiliki kesamaan  budaya,  wilayah  identitas,  dan  berinteraksi  dalam  suatu hubungan  sosial  yang  terstruktur.  Masyarakat  mewariskan  masa lalunya melalui:
1)       Tradisi dan adat istiadat (nilai,  norma yang mengatur perilaku  dan  hubungan  antar  individu  dalam  kelompok).  Adat  istiadat yang  berkembang  di  suatu  masyarakat  harus  dipatuhi  oleh anggota  masyarakat  di  daerah  tersebut.  Adat  istiadat  sebagai sarana  mewariskan  masa  lalu  terkadang  yang  disampaikan tidak  sama  persis  dengan  yang  terjadi  di  masa  lalu  tetapi mengalami  berbagai  perubahan  sesuai  perkembangan  zaman. Masa  lalu  sebagai  dasar  untuk  terus  dikembangkan  dan diperbaharui.
2)        Nasehat  dari para  leluhur,  dilestarikan  dengan  cara  menjaga nasehat  tersebut  melalui  ingatan  kolektif  anggota  masyarakat dan  kemudian  disampaikan  secara  lisan  turun  temurun  dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
3)       Peranan  orang  yang  dituakan  (pemimpin  kelompok  yang memiliki  kemampuan  lebih  dalam  menaklukkan  alam)  dalam masyarakat  Contoh:  Adanya  keyakinan  bahwa  roh-roh  harus dijaga,  disembah,  dan  diberikan  apa  yang  disukainya  dalam bentuk sesaji. Pemimpin kelompok menyampaikan secara lisan sebuah ajaran yang harus ditaati oleh anggota kelompoknya.
4)       Membuat  suatu peringatan  kepada  semua  anggota  kelompok masyarakat  berupa  lukisan  serta  perkakas  sebagai  alat  bantu  hidup  serta  bangunan  tugu  atau  makam.  Semuanya  itu  dapat diwariskan  kepada  generasi  selanjutnya  hanya  dengan melihatnya.  Contoh:  Benda-benda  (kapak  lonjong)  dan berbagai  peninggalan  manusia  purba  dapat  menggambarkan keadaan zaman masyarakat penggunanya.
5)       Kepercayaan terhadap  roh-roh  serta  arwah  nenek  moyang  dapat termasuk sejarah lisan sebab meninggalkan bukti sejarah berupa benda-benda dan bangunan yang mereka buat.
Tradisi berasal dari kata tradisi yang berarti sesuatu yang turun temurun (adat, kepercayaan, kebiasaan , ajaran) dari nenek moyang dengan kata lain  tradisi adalah kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke genarasi berikutnya secara tururn temurun[2]. Sementara itu menurut ensikplodia Tradisi adalah kebiasaan turun temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai budaya masyarakat yang bersangkutan[3]
Tradisi dalam kebudayan adalah suatu struktur kreatifitas yang sudah ada sebelumnya. Dalam tradisi juga mengandung arti keberadaan suatu kebudayan yang tidak dapat dipisahkan dengan masa lalu. Tradisi adalah sesuatu yang menghadirkan masa lalu pada masa sekarang, sehingga kondisi kebudayaan suatu masyarakat dalam konsep tradisi merupakan kontinuitas masa lalu bagi masa kini dan yang akan datang,
Tradisi merupakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dalam bentuk yang sama. Dalam Kamus Bahasa Indonesia tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Jadi tradisi merupakan kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat dan akan diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi merupakan roh dari sebuah kebudayaan. Tanpa tradisi tidak mungkin suatu kebudayaan akan hidup dan langgeng. Dengan tradisi hubungan antara individu dengan masyarakatnya bisa harmonis dan tradisi sistem kebudayaan akan menjadi kokoh. Jika tradisi dihilangkan maka ada harapan suatu kebudayaan akan berakhir pada saat itu juga. Setiap suatu tindakan atau perbuatan menjadi tradisi biasanya jika telah teruji tingkat efektivitas dan efisiensinya.Tentu saja telah teruji oleh berbagai kalangan dan waktu.
Tradisi merupakan segala sesuatu  yang berupa adat, kepercayaan dan kebiasaan. Kemudian adat, kepercayaan dan kebiasaan itu menjadi ajaran-ajaran  atau paham–paham yang turun temurun dari para pendahulu kepada generasi–generasi paska merekaberdasarkan dari mitos-mitosyang tercipta atas manifestasi kebiasaan yang menjadi rutinitas yang selalu dilakukan oleh klan-klan yang tergabung dalam suatu bangsa.
            Menurut  arti  yang  lebih  lengkap  bahwa  tradisi  mencakup kelangsungan masa lalu dimasa kini ketimbang sekedar menunjukan fakta  bahwa  masa  kini  berasal  dari  merupakan  dibuang  atau dilupakan.  Maka  di  sini  tradisi  hanya  berarti  warisan,  apa  yang benar-benar tersisa dari masa lalu. Hal  ini senada dengan apa yang dikatakan  Shils.  keseluruhan  benda  material  dan  gagasan  yang berasal  dari  masa  lalu  namun  benar-benar  masih  ada  kini,  belum dihancurkan,  dirusak,  “Tradisi  berarti  segala  sesuatu  yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini. [4]


[1] C.A. Van Peursen,1988. Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisisus. Hal. 11
[2] Esten, Mursal.1993.Struktur Sastra Lisan.Jakatta.Yayasan Obor Hal 11
[3] Ensikplodia Nasional Indonesia. 2009. Hal 141
[4] Mattulada,  Kebudayaan  Kemanusiaan  Dan  Lingkungan  Hidup,  (Hasanuddin  University Press, 1997), Hal. 1

Komentar