Langsung ke konten utama

Mubes IMS FISIP UR

Menciptakan Mahasiswa Sosiologi yang Perspektif, Produktif, Inspiratif, dan Kreatif”, itulah tema yang diangkat oleh Ikatan Mahasiswa Sosiologi (IMS) dalam Musyawarah Besar (Mubes) yang dilaksanakan di Gedung Dekanat FISIP UR pada Sabtu-Minggu (23-24/06) lalu. Mubes yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri juga oleh Nurhamlin, Ketua Jurusan Sosiologi.
Dalam Mubes ini, IMS tidak hanya membahas dan merubah undang-undang Sosiologi, tetapi juga melakukan Laporan Pertanggung Jawaban kepemimpinan tahun 2011, membahas Anggaran Belanja dan Anggaran Rumah Tangga, serta melaksanakan pemilihan Ketua IMS. Dalam pemilihan ketua, kepengurusan akan menentukan kriteria dan menunjuk bakal calon yang akan menjadi ketua IMS selanjutnya melalui musyawarah.
Dari masing masing angkatan, mulai dari angkatan 2005-2011 mengutus tujuh hingga sepuluh orang per angkatan untuk menjadi anggota sidang. ‘’Dengan sistem pemilihan IMS melalui musyawarah ini, jadi Sosiologi tidak perlu melakukan Pemira lagi,’’ ungkap Robi Armilus, ketua pelaksana Mubes Sosiologi kepada Tekad pada Minggu (24/06) lalu.
Oleh karenanya, Robi mengungkapkan bahwa Jurusan Sosiologi adalah jurusan pertama khususnya di FISIP UR yang memilih ketua atau pun bupati mahasiswa langsung dalam forum musyawarah, bukan dalam bentuk pemira.
Salah seorang peserta Mubes, Suryadi mengungkapkan, ‘’Mubes ini juga memberikan proses belajar bagi mahasiswa Sosiologi, khususnya angkatan 2011 untuk mengetahui mekanisme persidangan sebagai bekalnya kelak di lingkup masyarakat luas,’’ ungkap Suryadi pada Senin (25/06) lalu. Ia juga berharap agar Sosiologi ke depannya semakin peduli terhadap kegiatan mahasiswa dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan segenap mahasiswa lain.

 sumber : https://tabloidtekad.wordpress.com/2012/11/10/sosiologi-bermusyawarah-pemira-tidak-perlu-lagi/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Pertanyaan Penting Untuk Menjadi Sociopreneur

Sociopreneur atau wirausaha sosial merupakan bentuk dari suatu upaya dari organisasi ataupun perusahaan agar bisa memberikan dampak sosial dan bukan hanya sekedar mencari keuntungan semata Memulai social enterprise hampir sama dengan memulai usaha atau membangun perusahaan sendi di bidang apapun. Bedanya, biasanya untuk socieopreneur  kita bisa memulai dengan 5 pertanyaan ini sebelum kemudian turun dan memutuskan menjadi seorang sociopreneu r : Apakah masalah sosial yang membuat kita ingin membangun social enterprise? Bagaimana proses pemberdayaan yang akan kita lakukan bersama masyarakat untuk mendukung pemecahan masalah sosial tersebut? Apa saja prinsip bisnis etis yang akan kita implementasikan? Apakah kita bisa melihat kegiatan ini sebagai sesuatu yang berkelanjutan dalam jangka panjang, atau hanya menjadi proyek idealis saja? Akan seperti apakah dampak sosial dari social enterprise kita ini? Nah, jika tertarik mulai membangun soci

Modal Sosial Masyarakat Desa

Konsep modal sosial yang terkait jaringan sosial telah menjadi mekanisme jelas kunci dalam bidang sosiologi ekonomi, fleshing implikasi dari asumsi meta-teoretis.   Hal ini dalam jaringan yang banyak (meskipun tidak semua) tindakan ekonomi secara sosial tertanam, dan salah satu hasil yang paling penting dari yang embeddedness adalah modal sosial. Definisi sosiologis yang diterima secara umum Modal sosial adalah kemampuan untuk mendapatkan akses ke sumber daya berdasarkan keanggotaan dalam jaringan atau structures.2 sosial yang lebih besar Jelas, seperti kemampuan mengalir keluar dari embeddedness (bagian) , menjadi salah satu yang paling nyata manifestasi.   Salah satu bagian dari modal sosial yang sangat berpengaruh dewasa ini adalah modal sosial kepercayaan ( trust) yang dapat memberikan andil yang besar dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Ikatan-iktan sosial yang ada dalam masyarakat harus direkatkan dengan kepercayaan.  Modal dasar dari adanya ikatan sosial yan

Teori Sistem Sosial

Teori system sosial menjelaskan tentang dinamika oganisasi dalam istilah-istilah dari jaringan sosial- hubungan dan interaksi orang didalam dan diuar organisasi. Blau dan Scott (1962) mengenalkan dua prinsip dasar yang membantu mendefinisikan sistem sosial. Salah satunya adalah susunan hubungan-hubungan sosial, atau pola-pola dari interaksi-interaksi sosial didalam sistem sosial.. Yang lain adalah budaya, atau nilai-nilai kebersamaan dari orang-orang di dalam sistem sosial. Hal ini berguna untuk mengingat bahwa susunan hubungan sosial dan budaya dari organisasi dapat dilihat secara formal, informal atau holistik. Struktur sosial ditentukan oleh jenis interaksi sosial, antara orang dengan berbagai status dalam organisasi. Tindakan Sosial mengacu pada jenis dan tingkat interaksi di antara mereka dalam sebuah organisasi, apakah mereka lebih tinggi, rendah, atau berorientasi pada teman sebaya. Misalnya, penting untuk dicatat bagaimana-sering dan panjangnya orang bercakap-cakap satu de