Manusia dan Kebudayaan



Manusia dan Kebudayaan
Manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, karena menjadi manusia tidak lain adalah merupakan bagian dari hasil kebudayaan itu sendiri. Hampir semua tindakan manusia merupakan produk kebudayaan. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar, seperti melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan akultarasi.
Kebudayaan yang sangat mementingkan antara manusia dengan sesamanya . dalam tingkah lakunya manusia yang hidup dalam suatu kebudayaan  serupa itu akan berpedoman kepada tokoh –tokoh pemimpin, orang-orang senior dan atasan. Orang dalam suatu kebudayaan serupa akan sangat tergantung kepada sesamanya, usaha untuk melakukan hubungan baik dengan tetangganya dan semuanya merupakan suatu hal yang dianggapnya sangat penting dalam hidup [1]
Masyarakat sebagai kumpulan dari manusia merupakan suatu istilah yang di dalam bahasa inggris disebut society yang berasal dari bahasa latin socius yang artinya kawan. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul  dalam istilah ilmiah berinterkasi. Suatu kesatuan manusia dapat memepunyai prasarana melalui warga-warganya yang saling berinteraksi. Defenisi lain dari masyrakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat  tertentu yang bersifat kontinnyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas tersebut memiliki empat ciri yaitu :
1.      Interaksi antar warganya
2.      Adat-istiadat
3.      Kontinuitas
4.      Rasa identitas yang kuat yang mengikat semua warga [2]
Emeile Durkheim menyebutkan bahwa masyarakat merupakan suatu kenyataan yang objektif secara mandiri, bebas dari individu-invidu yang merupakan anggota-anggotanya. Masyarakat sebagai kumpulan manusia didalamnya ada beberapa unsur yang mencakup. Adapaun unsur-unsur tesebut adalah :
1.      Masyarakat adalah manusia yang hidup bersama
2.      Bercampur untuk waktu yang cukup lama
3.      Mereka sadar bahwa mereka adalah suatu kesatuan
4.      Mereka merupakan suatu system hidup bersama.[3] 


Menurut Koentjaraningrat,  kebudayaan  itu  mempunyai  paling  sedikit  tiga wujud, yaitu:
a)      Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasangagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
b)      Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola  dari manusia dalam masyarakat.
c)       Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Masyarakat  merupakan  sekelompok  orang  yang  memiliki kesamaan  budaya,  wilayah  identitas,  dan  berinteraksi  dalam  suatu hubungan  sosial  yang  terstruktur.  Masyarakat  mewariskan  masa lalunya melalui:
1)       Tradisi dan adat istiadat (nilai,  norma yang mengatur perilaku  dan  hubungan  antar  individu  dalam  kelompok).  Adat  istiadat yang  berkembang  di  suatu  masyarakat  harus  dipatuhi  oleh anggota  masyarakat  di  daerah  tersebut.  Adat  istiadat  sebagai sarana  mewariskan  masa  lalu  terkadang  yang  disampaikan tidak  sama  persis  dengan  yang  terjadi  di  masa  lalu  tetapi mengalami  berbagai  perubahan  sesuai  perkembangan  zaman. Masa  lalu  sebagai  dasar  untuk  terus  dikembangkan  dan diperbaharui.
2)        Nasehat  dari para  leluhur,  dilestarikan  dengan  cara  menjaga nasehat  tersebut  melalui  ingatan  kolektif  anggota  masyarakat dan  kemudian  disampaikan  secara  lisan  turun  temurun  dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
3)       Peranan  orang  yang  dituakan  (pemimpin  kelompok  yang memiliki  kemampuan  lebih  dalam  menaklukkan  alam)  dalam masyarakat  Contoh:  Adanya  keyakinan  bahwa  roh-roh  harus dijaga,  disembah,  dan  diberikan  apa  yang  disukainya  dalam bentuk sesaji. Pemimpin kelompok menyampaikan secara lisan sebuah ajaran yang harus ditaati oleh anggota kelompoknya.
4)       Membuat  suatu peringatan  kepada  semua  anggota  kelompok masyarakat  berupa  lukisan  serta  perkakas  sebagai  alat  bantu  hidup  serta  bangunan  tugu  atau  makam.  Semuanya  itu  dapat diwariskan  kepada  generasi  selanjutnya  hanya  dengan melihatnya.  Contoh:  Benda-benda  (kapak  lonjong)  dan berbagai  peninggalan  manusia  purba  dapat  menggambarkan keadaan zaman masyarakat penggunanya.
5)       Kepercayaan terhadap  roh-roh  serta  arwah  nenek  moyang  dapat termasuk sejarah lisan sebab meninggalkan bukti sejarah berupa benda-benda dan bangunan yang mereka buat.




[1] Konjaraningrat ,2009,Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta, Jakarta  Hlm 156
[2] Ibid Hal 115-118
[3] Soleman, B Taneko.1984.Struktur Dan Proses Sosial.Rajawali Pres. Jakarta. Hal 11

Komentar