Langsung ke konten utama

Hutan Adat di Batin Monti Ajo Desa Betung



Hasil Penelitian Tentang Hutan Adat dan Tanah Ulayat di Desa Betung 
Narasumber
1.Agus Salim ( Pjs Kades Betung)
2.Imam Pendek(Penghulu Kampung)
            Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber di ketahui bahwa hutan ulayat rimba kepungan sialang di desa betung dalam wilayah pebatinan monti ajo tinggal 4 rimba kepungan sialang yaitu :
1.      Sialang muda
2.      Sialang tasik
3.      Sialang sekawan
4.      Sialang pebatean
Ke empat rimba kepungan sialang tersebut menjadi benteng terakhir dari pertahanan adat tanah ulayat masyarakat petalangan, hal ini karena telah banyaknya hutan yang digunakan oleh perusahaan untuk menanam sawit.
Selain rimba kepungan sialang, tanah ulayat masyarakat desa betung yaitu tanah peladangan seluas 102 hektar yang termasuk dalam kawasan HGU Perusahaan namun di pinjamkan kepada pemerintah kabupaten pelalawan untuk mendukung  program swasembeda pangan yang dikelola oleh masyrakat betung. Namun pada hakikatanya tanah tersebut telah lama sejak turun teurun digunaan oleh masyarakat untuk berladang.
Pada masyarakat desa betung dalam kawasan wilayah pebatinan monti ajo terdapat 6 pesukuan yaitu :
1.      Lubuk
2.      Penyabung
3.      Pelabi
4.      Peliang
5.      Pematan
6.      Mendailing
Setiap kepala suku yang disebut mamak suku di bawah kekuasaan batin monti ajo. Batin monti ajo berasal dari suku lubuk sehingga kepungan sialang yang ada diwilayah kekuasaan batin monti ajo di kuasai oleh suku lubuk.
Sementara itu suku penyabung memiliki tanah pesukuan seluas 6.600 hektar yang diberikan oleh batin monti ajo dan batin sangerih namun karena dijual oleh anak kemenakan sehingga  hanya tersisa 150 hektar yang sudah menjadi sawit yang di kelola oleh PT Safari Riau namun sekarang sudah dikelola oleh kelompok pesukuan penyabung di masing-masing desa yang ada dalam wilayah Batin Monti Ajo Dan Batin Sangerih.
Ada 605 KK suku penyabung yang mendapatkan hasil dari tanah pesukuan penyabung seluas 90 hektar dimana dibagi perdesa, suku penyabung yang ada di desa betung dapat lahan seluas 15 hektar dibagi kepada 191 KK suku penyabung yang ada di desa betung.
Luas sawit seluas 150 hektar dibagi 90 hektar kepada suku penyabung yang dibagi lagi untuk 7 desa, Betung, Talau, Tanjung Beringan, Palas, Kemang, Sorek 1, Sorek 2.sementara itu 60 hektar lagi di berikan kepada pesukuan pelabi yang ada di tarantang manuk. Hal ini karena untuk membayar hutang nenek moyang suku penyabung kepada pesukuan pelabi.
Sejarah suku penyabung bisa mendapatkan tanah adalah karena pemberian dari Batin Monti Ajo dan Batin Sangerih. Menurut sejarahnya suku penyabung berasal dari daerah Baneo Kelayang dimana ketika itu nenek moyang suku penyabung adek beradek merajuk sehingga bersumpah tidak akan mau kembali lagi ke baneo, maka pergilah mereka merantau di wilayah Batin Monti Ajo dan Batin Sangerih, mereka kemudian tinggal dan diangkat menjadi anak oleh Batin Sangerih. Terjadi suatu peristiwa dimana perbekalan mereka yang ada di dalam peti hilang berupa emas dan lainnya yang diambil oleh anak Batin Sangerih. Namun karena tidak ada bukti maka akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dan kembali kekampung asalnya meski harus “memakan sumpah”, diperjalanan berjumpalah mereka dengan Batin Monti Ajo dan ditanyakan mau kemana mereka hendak pergi, kemudian mereka menjawab dengan nada putus asa untuk kembali ke asal mereka meski harus kena sumpah. Mendengar itu Batin Monti Ajo mengajak mereka untuk kerumah. Setelah itu Batin Monti Ajo menemui Batin Sangerih untuk berdiskusi mengenai suku penyabung ini. Lalu mereka sepakat untuk memberikan tanah untuk menjadi harta pusaka suku penyabung. Seluas 6.600 hektar diantara perbatasan wilayah Batin Monti Raja dan Batin Sangerih. Namun suku penyabung tidak mau jika hanya dikasih dan diberi begitu saja oleh batin Sangerih karena mereka takut nantik dituntut oleh anak kemanakan nya suku sangerih sehingga mereka mau membeli tanah tersebut biar tidak di ganggu oleh anak kemanakan suku sangerih dimasa yang akan datang. Karena tidak ada uang maka mereka pun meminjam uang sejumlah 5 kupang kepada Batin Pelabi. Namun batin Pelabi tidak mau dibayar tunai hutang tersebut. Maka disepakatilah oleh mereka. Maka di beli lah dengan mahar 5 kupang kepada Batin Sangerih yang kemudian menjadi hak milik pesukuan penyabung. Itulah sejarahnya sehingga dari 150 hektr yang tersisa yang ditanami sawit, maka untuk  membayar hutang kepada suku pelabi 60 hektar diberikan  pada Suku Pelabi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Perumusan Kebijakan

PROSES   PERUMUSAN   KEBIJAKAN           PENDAHULUAN           Salah   satu tugas pemerintah adalah sebagai perumus Kebijakan Publik. Agar kebijakan publik dapat dirumuskan secara secara sistematik, diperlukan sebuah proses yang   yang sistematis. Meskipun proses itu tidak selalu bersifat kaku, proses perumusan kebijakan memungkinkan sistem pemerintahan dalam merumuskan kebijakan menjadi teratur.             Sebagian besar tugas dalam proses perumusan kebijakan terletak pada para pejabat pemerintah atau pegawai negeri yang dipimpin oleh seorang menteri di suatu departemen.Selain proses ini melibatkan berbagai lembaga pemerintah lembaga-lembaga non pemerintah juga biasanya terlibat terutama pada proses pengusulan isu dan agenda kebijakan serta pengevaluasiannya.             Cara yang paling sering ditempuh untuk membuat kebijakan adalah membagi proses perumusannya kedalam beberapa langkah yang jelas dan mudah diidentifikasi secara terpisah PEMAIN KEBIJAKAN        Se

5 Pertanyaan Penting Untuk Menjadi Sociopreneur

Sociopreneur atau wirausaha sosial merupakan bentuk dari suatu upaya dari organisasi ataupun perusahaan agar bisa memberikan dampak sosial dan bukan hanya sekedar mencari keuntungan semata Memulai social enterprise hampir sama dengan memulai usaha atau membangun perusahaan sendi di bidang apapun. Bedanya, biasanya untuk socieopreneur  kita bisa memulai dengan 5 pertanyaan ini sebelum kemudian turun dan memutuskan menjadi seorang sociopreneu r : Apakah masalah sosial yang membuat kita ingin membangun social enterprise? Bagaimana proses pemberdayaan yang akan kita lakukan bersama masyarakat untuk mendukung pemecahan masalah sosial tersebut? Apa saja prinsip bisnis etis yang akan kita implementasikan? Apakah kita bisa melihat kegiatan ini sebagai sesuatu yang berkelanjutan dalam jangka panjang, atau hanya menjadi proyek idealis saja? Akan seperti apakah dampak sosial dari social enterprise kita ini? Nah, jika tertarik mulai membangun soci

Modal Sosial Masyarakat Desa

Konsep modal sosial yang terkait jaringan sosial telah menjadi mekanisme jelas kunci dalam bidang sosiologi ekonomi, fleshing implikasi dari asumsi meta-teoretis.   Hal ini dalam jaringan yang banyak (meskipun tidak semua) tindakan ekonomi secara sosial tertanam, dan salah satu hasil yang paling penting dari yang embeddedness adalah modal sosial. Definisi sosiologis yang diterima secara umum Modal sosial adalah kemampuan untuk mendapatkan akses ke sumber daya berdasarkan keanggotaan dalam jaringan atau structures.2 sosial yang lebih besar Jelas, seperti kemampuan mengalir keluar dari embeddedness (bagian) , menjadi salah satu yang paling nyata manifestasi.   Salah satu bagian dari modal sosial yang sangat berpengaruh dewasa ini adalah modal sosial kepercayaan ( trust) yang dapat memberikan andil yang besar dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Ikatan-iktan sosial yang ada dalam masyarakat harus direkatkan dengan kepercayaan.  Modal dasar dari adanya ikatan sosial yan